Viral Tambang di Gunung Slamet — Penjelasan Resmi dari ESDM Jawa Tengah
Jangkauan Celigon – Viral Tambang di Gunung Beberapa hari belakangan, media sosial dan sejumlah posting di internet menunjukkan citra satelit dan foto “titik gundul” di lereng Gunung Slamet — disertai narasi bahwa lokasi tersebut adalah hasil aktivitas tambang batu/pasir ilegal. Foto‑foto ini memicu keprihatinan warga dan kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, longsor, serta potensi bencana di masa mendatang.
Menanggapi hal ini, pihak ESDM Jawa Tengah, melalui kepala wilayah di Slamet Selatan, membantah keras bahwa area tersebut adalah tambang. Menurut mereka, apa yang terlihat pada citra tersebut sesungguhnya merupakan bekas jalur akses dan tapak proyek eksplorasi panas bumi (geothermal) lama — bukan tambang batu atau pasir.
Mereka menegaskan bahwa proyek panas bumi itu dilakukan sekitar tahun 2018, dan area tersebut sejak itu telah direklamasi serta mulai ditumbuhi vegetasi kembali — sehingga saat ini kondisi alam telah kembali hijau.
Apa Kata Pengelola Panas Bumi & Hasil Studi Geologi
PT Sejahtera Alam Energy (SAE), perusahaan yang pernah menangani proyek panas bumi di lereng Gunung Slamet, mengonfirmasi bahwa kegiatan mereka adalah eksplorasi panas bumi — bukan penambangan material galian C.
Studi geologi terbaru menunjukkan bahwa Gunung Slamet memang memiliki potensi panas bumi tinggi — dengan manifestasi mata air panas dan zona hidrotermal, terutama di bagian barat‑daya gunung.
Karena sifatnya sebagai geothermal (energi terbarukan), aktivitas di sana bertujuan untuk pengembangan listrik bersih — bukan ekstraksi pasir, batu atau mineral.
Dengan demikian, apa yang dipublikasikan luas sebagai “tambang ilegal” sangat mungkin adalah kesalahan tafsir terhadap bekas jalur proyek geothermal.
Baca Juga: Rendy Varera Sumbang Perak Jadi Medali Pertama Indonesia di SEA Games 2025
Viral Tambang di Gunung Kekhawatiran Publik & Implikasi Lingkungan
Meski dibantah, citra “area cokelat” di lereng Gunung Slamet tetap memancing kekhawatiran warga dan aktivis lingkungan. Alasannya:
Bekas pembukaan akses jalan dan tapak proyek bisa melemahkan tutupan hutan sementara, mengurangi resapan air, dan meningkatkan risiko lonsor atau longsor jika hujan deras — terutama di area perbukitan.
Banyak yang khawatir jika area seperti ini menjadi ruang eksploitasi besar-besaran tanpa pengawasan dan reklamasi serius.
Sebagai respons, pemerintah provinsi membentuk satgas khusus menangani isu tambang di lereng Gunung Slamet — melibatkan ESDM, aparat penegak hukum, dan lembaga terkait untuk memeriksa semua klaim aktivitas tambang serta memastikan pengawasan lingkungan.
Kenapa Ini Bukan “Tambang” — Tapi Bagian dari Proyek Energi Panas Bumi
| Aspek / Indikator | Ciri Tambang Batu/Pasir | Ciri Eksplorasi Panas Bumi di Gunung Slamet |
|---|---|---|
| Tujuan aktivitas | Mengambil material (batu, pasir, mineral) dari perut bumi / lereng | Mencari sumber panas & air panas bawah tanah untuk pembangkit listrik |
| Izin formal | Izin Usaha Pertambangan (IUP) jika resmi | Izin panas bumi / eksplorasi energi terbarukan |
| Karakter bekas lahan | Galian terbuka, terasering, jalur truk, kubangan penambangan | Jalur akses sempit, bekas jalan proyek, tapak sumur/bor, area yang kemudian direklamasi |
| Status terkini (2025) | Bila eksisting: izin & aktivitas harus terpantau | Menurut ESDM — sudah berhenti, area sudah direvegetasi (hijau kembali) |
Dari analisis resmi dan data geologi — area viral di Gunung Slamet lebih cocok dikategorikan sebagai bekas jalur & tapak proyek panas bumi, bukan tambang batu/pasir.
Mengapa Publik Mudah Terkecoh & Pentingnya Verifikasi
Foto satelit/gambar citra udara tanpa metadata (tahun, koordinat, konteks) mudah disalahtafsirkan — terutama jika disandingkan dengan komentar “tambang ilegal”.
Video atau posting media sosial kadang hanya menampilkan bukaan lahan saja, tanpa penjelasan teknis, sehingga publik menarik kesimpulan sendiri.
Pemerintah dan lembaga lingkungan diharapkan transparan: menunjukkan bukti izin, survei geologi, peta modulasi, perkembangan vegetasi pasca‑eksplorasi. Ini penting untuk meredam misinformasi dan mencegah panik publik.
Kesimpulan & Polemik yang Masih Terbuka
Isu “tambang di Gunung Slamet” yang viral sejauh ini negatif palsu (false narrative) apabila dilihat dari klarifikasi resmi: area yang ramai diperbincangkan adalah bekas jalur dan tapak proyek panas bumi, bukan lokasi tambang batu/pasir berizin maupun ilegal.
Namun, kekhawatiran publik terhadap dampak lingkungan — berupa erosi, penurunan tutupan hutan, dan risiko longsor — tetap valid. Meskipun proyek sudah berhenti dan area diklaim telah direvegetasi, pemantauan jangka panjang tetap diperlukan.






