Sepekan Banjir di Pantura Subang: 7.500 Rumah Terendam, 36.000 Jiwa Terdampak
Jangkauan Celigon – Sepekan Banjir di Pantura melanda kawasan Pantura Subang, Jawa Barat, dan mengakibatkan kerugian besar bagi warga setempat. Hingga akhir pekan lalu, sekitar 7.500 rumah terendam air, sementara sekitar 36.000 jiwa tercatat sebagai korban yang terdampak langsung. Banjir yang dipicu oleh curah hujan tinggi dan meluapnya beberapa sungai besar ini mengakibatkan sejumlah daerah di Pantura Subang, termasuk kecamatan-kecamatan yang sebelumnya jarang terpapar banjir, menjadi terisolasi.
Sebagian besar wilayah yang terendam banjir adalah daerah pesisir yang memang rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem. Masyarakat yang terdampak kini berjuang untuk mengatasi kondisi darurat, sementara pihak berwenang, baik pemerintah daerah maupun tim tanggap darurat, terus berupaya melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kebutuhan dasar.
Penyebab Banjir: Curah Hujan Tinggi dan Luapan Sungai
Banjir yang terjadi di Pantura Subang dimulai sejak awal pekan lalu, setelah intensitas hujan yang cukup tinggi mengguyur wilayah tersebut. Sungai Cipunagara, yang membelah beberapa kecamatan di Subang, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya bencana ini. Luapan sungai yang tidak mampu lagi menampung volume air menyebabkan banjir besar yang merendam pemukiman warga.
Selain itu, kondisi geografis Pantura yang rendah dan dekat dengan permukaan laut turut memperburuk situasi. Drainase yang buruk dan kurangnya sistem pengelolaan air di beberapa daerah juga memicu terjadinya banjir yang meluas. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, meski hujan deras terjadi, banjir sebesar ini jarang terjadi, yang menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim mungkin semakin nyata dirasakan.
“Ini benar-benar bencana besar bagi kami. Air datang dengan sangat cepat dan langsung menggenangi rumah-rumah kami. Kami tidak bisa menyelamatkan banyak barang karena air sudah naik begitu tinggi dalam waktu singkat,” ujar Siti, salah seorang warga Desa Karanganyar yang rumahnya terendam banjir.
Baca Juga: Sejauh Mana Capaian Perjanjian Paris 2015 Melawan Krisis Iklim
Masyarakat Terdampak: Kerugian dan Kehilangan
Lebih dari 36.000 warga Subang terdampak oleh bencana banjir ini. Ratusan rumah, toko, dan fasilitas umum terendam air, menyebabkan kerugian material yang sangat besar. Banyak warga yang kehilangan barang-barang berharga, seperti perabot rumah tangga, alat pertanian, dan kendaraan. Beberapa di antaranya juga harus mengungsi karena rumah mereka tidak dapat lagi dihuni.
Banjir juga mengganggu aktivitas ekonomi warga, terutama mereka yang bergantung pada usaha kecil dan pertanian. Banyak petani di Subang yang kehilangan hasil pertanian mereka, sementara para pedagang dan pemilik toko harus menghadapi kerugian akibat barang dagangan yang rusak atau hanyut terbawa air.
Selain kerugian material, banjir ini juga membawa dampak sosial yang cukup signifikan. Beberapa warga yang tinggal di daerah lebih tinggi terpaksa menolong tetangga yang lebih rendah dengan membuka rumah mereka sebagai tempat pengungsian sementara. Namun, ruang terbatas dan akses bantuan yang terbatas membuat situasi semakin sulit.
“Selain kehilangan rumah, kami juga kehilangan penghasilan. Kebun sayur dan tanaman kami rusak, dan kami harus mencari cara baru untuk bertahan hidup,” ujar Asep, seorang petani di Kecamatan Legonkulon.
Sepekan Banjir di Pantura Upaya Penanggulangan Bencana: Bantuan dan Evakuasi
Pemerintah Kabupaten Subang bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berupaya untuk menanggulangi bencana ini. Tim SAR, relawan, serta aparat TNI dan Polri dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga yang terjebak di kawasan banjir. Beberapa posko pengungsian telah didirikan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal, menyediakan makanan, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya.
Hingga kini, lebih dari 10.000 warga telah dievakuasi dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Pemerintah juga mengirimkan bantuan logistik berupa pakaian, peralatan kebersihan, makanan siap saji, dan kebutuhan lainnya untuk membantu meringankan beban para korban.
“Tim kami bekerja 24 jam untuk memastikan bantuan bisa segera sampai ke korban. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut,” ungkap Kepala BPBD Subang, Eka Prasetya.
Selain itu, Dinas Kesehatan Subang juga mengerahkan tenaga medis untuk memberikan perawatan kepada warga yang mengalami luka atau penyakit akibat banjir, seperti diare dan penyakit kulit. Tenaga medis juga melakukan pemantauan terhadap kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan untuk mencegah terjadinya wabah penyakit pasca-banjir.
Sepekan Banjir di Pantura Kerugian Lingkungan dan Infrastruktur
Banjir juga merusak infrastruktur kota Subang, dengan beberapa jembatan, jalan raya, dan fasilitas publik lainnya terendam air atau rusak akibat longsor. Akses ke beberapa daerah terisolasi, dan jalan-jalan utama yang menghubungkan Subang dengan daerah lainnya menjadi sulit dilalui. Beberapa ruas jalan yang menghubungkan kecamatan-kecamatan di pantura terputus akibat longsoran tanah dan genangan air yang tinggi.
Kerusakan ini memperburuk kondisi di lapangan, terutama dalam hal distribusi bantuan dan evakuasi. Pemerintah setempat kini tengah berfokus pada upaya pemulihan infrastruktur, memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak, serta melakukan pembersihan puing-puing yang terbawa banjir.
“Banjir ini bukan hanya merusak rumah-rumah kami, tetapi juga infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar akses kembali lancar dan warga bisa beraktivitas normal,” tambah Siti.
Tantangan Mitigasi Banjir dan Perubahan Iklim
Banjir besar ini kembali mengingatkan pentingnya perencanaan yang lebih baik dalam mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan di wilayah rawan banjir. Para ahli dan aktivis lingkungan menilai bahwa perubahan iklim yang menyebabkan pola cuaca ekstrem menjadi lebih sering, berperan besar dalam meningkatkan intensitas dan frekuensi bencana banjir. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah konkret dalam upaya pengurangan risiko bencana.






