Seluruh Jalur Pendakian Gunung Lawu Ditutup Selama Februari 2026: Keamanan dan Pemulihan Alam Jadi Prioritas
Jangkauan Celigon – Seluruh Jalur Pendakian Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, diputuskan untuk menutup seluruh jalur pendakiannya selama bulan Februari 2026. Penutupan ini diumumkan oleh Balai Taman Nasional Gunung Lawu (BTNG Lawu) sebagai langkah preventif untuk menjaga keselamatan pendaki sekaligus memberikan kesempatan bagi pemulihan alam. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan faktor-faktor cuaca ekstrem, dampak ekosistem, serta kebutuhan untuk melakukan perawatan jalur pendakian.
Gunung Lawu merupakan salah satu destinasi pendakian populer di Indonesia, dengan ribuan pendaki yang datang setiap tahun untuk menikmati pemandangan alam yang spektakuler dan menikmati perjalanan spiritual di puncak gunung. Namun, mengingat potensi risiko yang meningkat pada musim hujan dan upaya konservasi alam, penutupan jalur pendakian ini dianggap sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan pengunjung dan kelestarian alam.![]()
1. Alasan Penutupan Jalur Pendakian
Keputusan untuk menutup seluruh jalur pendakian Gunung Lawu diambil setelah evaluasi menyeluruh oleh pihak BTNG Lawu bersama instansi terkait. Salah satu alasan utama penutupan ini adalah cuaca buruk yang melanda wilayah tersebut pada musim hujan. Hujan deras yang sering terjadi dapat meningkatkan potensi tanah longsor, bencana alam, dan terjadinya genangan air yang menghambat akses pendakian. Kondisi jalur yang licin dan berbahaya dapat menyebabkan kecelakaan yang tidak diinginkan, terutama bagi pendaki yang tidak berpengalaman.
Selain itu, rekayasa jalur pendakian juga diperlukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem yang ada di sekitar gunung. Aktivitas pendakian yang berlebihan dapat merusak vegetasi dan mengganggu habitat flora dan fauna setempat, yang memerlukan waktu untuk pulih. Dalam bulan Februari, pihak taman nasional akan fokus pada perbaikan dan pemeliharaan jalur pendakian serta kegiatan konservasi.
“Kami memutuskan untuk menutup seluruh jalur pendakian Gunung Lawu pada Februari 2026 guna melindungi keselamatan pendaki dan memberi kesempatan bagi alam untuk pulih. Penutupan ini juga menjadi bagian dari upaya kami untuk melakukan pemeliharaan jalur pendakian yang telah terpakai selama tahun-tahun sebelumnya,” jelas Kepala Balai Taman Nasional Gunung Lawu, Susi Purwanti.
Baca Juga: Singgung Dugaan Konspirasi Wabup Jember Soroti Kejanggalan Gugatan Awal
2. Seluruh Jalur Pendakian Gunung Pemulihan Alam dan Ekosistem Gunung Lawu
Penutupan jalur pendakian juga bertujuan untuk memberikan waktu bagi alam Gunung Lawu untuk pulih. Gunung ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, dengan banyak tumbuhan endemik dan berbagai jenis satwa liar, termasuk berbagai jenis burung, mamalia, dan reptil. Dampak dari kegiatan pendakian yang tidak terkontrol bisa merusak ekosistem ini, baik melalui penghancuran habitat alami maupun pencemaran lingkungan.
Pihak BTNG Lawu juga akan melakukan program konservasi selama periode penutupan, seperti penanaman pohon, pemantauan satwa liar, serta restorasi area yang telah terganggu oleh aktivitas manusia. Ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap alam dan meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan Taman Nasional.
“Gunung Lawu bukan hanya tempat pendakian, tapi juga rumah bagi banyak spesies yang terancam punah. Kami ingin memastikan bahwa pendakian yang berlangsung setiap tahun tidak merusak keseimbangan ekosistem. Dengan memberikan waktu pemulihan seperti ini, kami berharap alam bisa kembali seimbang dan lestari,” tambah Susi.
3. Meningkatnya Risiko Kecelakaan di Musim Hujan
Selain faktor lingkungan, musim hujan yang terjadi di bulan Februari juga meningkatkan risiko kecelakaan selama pendakian. Pihak Taman Nasional mengingatkan bahwa jalur pendakian Gunung Lawu cenderung licin dan berbahaya, terutama di daerah-daerah dengan ketinggian lebih dari 2.500 mdpl. Dengan banyaknya air hujan yang turun, jalur pendakian bisa menjadi sangat licin, yang berisiko menyebabkan kecelakaan serius bagi pendaki, terutama mereka yang tidak siap secara fisik dan mental.
“Kami sangat mengimbau agar para pendaki menunda perjalanan mereka ke Gunung Lawu pada bulan Februari. Kondisi alam yang ekstrim saat musim hujan sangat tidak mendukung untuk pendakian, apalagi bagi mereka yang belum berpengalaman. Kecelakaan sering terjadi karena pengendalian diri yang kurang dan jalur yang licin. Keselamatan pendaki adalah prioritas utama kami,” ujar Hendra Wijaya, Koordinator Lapangan di BTNG Lawu.
4. Penutupan Sementara untuk Keselamatan Pendaki
Mereka tetap bisa mengikuti kegiatan seperti seminar, sosialisasi tentang keselamatan pendakian, serta pelatihan tentang pelestarian alam yang lebih ramah lingkungan.
“Kami ingin memastikan bahwa meskipun jalur pendakian ditutup, masyarakat tetap bisa terlibat dalam upaya konservasi Gunung Lawu. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati alam tanpa harus mendaki, seperti berpartisipasi dalam kegiatan pemeliharaan alam,” ungkap Susi Purwanti.
5. Tanggapan Masyarakat dan Pendaki
Masyarakat dan para pendaki yang biasa datang ke Gunung Lawu untuk menikmati pemandangan dan tantangan pendakian mengaku kecewa dengan penutupan ini. Banyak pendaki yang telah merencanakan perjalanan mereka jauh-jauh hari dan terpaksa menunda impian mereka untuk menikmati keindahan Gunung Lawu.
Namun, banyak juga yang mendukung keputusan tersebut, mengingat keselamatan dan pelestarian alam adalah hal yang jauh lebih penting. Rini Pratiwi, salah seorang pendaki asal Jakarta, mengatakan, “Meskipun saya kecewa karena perjalanan saya terhambat, saya sepenuhnya mendukung keputusan ini. Keamanan dan kelestarian alam harus diutamakan, dan saya yakin Gunung Lawu akan kembali indah setelah dipulihkan.”






