Sejauh Mana Capaian Perjanjian Paris 2015 dalam Melawan Krisis Iklim?
Jangkauan Celigon – Sejauh Mana Capaian Perjanjian Sudah hampir satu dekade sejak Perjanjian Paris 2015 disepakati oleh hampir seluruh negara di dunia untuk menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak. Perjanjian yang disahkan pada COP21 di Paris, Perancis, menjadi tonggak penting dalam upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi kenaikan suhu bumi agar tidak melebihi 1,5°C dibandingkan dengan tingkat pra-industri. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak yang mempertanyakan, sejauh mana komitmen dan capaian dari perjanjian ini?
1. Tujuan Perjanjian Paris: Menjaga Kenaikan Suhu Global
Perjanjian Paris bertujuan untuk menjaga kenaikan suhu global pada abad ini jauh di bawah 2°C, dan berusaha membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C. Untuk mencapainya, setiap negara menyepakati untuk mengurangi emisi karbon mereka melalui target-target nasional yang disebut Nationally Determined Contributions (NDCs). Setiap lima tahun, negara-negara diharapkan untuk meningkatkan ambisi mereka guna memenuhi tujuan tersebut. Perjanjian ini juga menekankan pentingnya pendanaan iklim untuk negara-negara berkembang, yang rawan menghadapi dampak perubahan iklim meskipun mereka tidak berkontribusi besar terhadap emisi global.
Baca Juga: MK Tegaskan Pemerintah Tak Berwenang Awasi Etika Dokter dan Nakes
2. Perkembangan Hingga 2026: Arah yang Belum Cukup Cepat
Meskipun ada sejumlah kemajuan dalam implementasi Perjanjian Paris, pencapaiannya sejauh ini belum memadai untuk menghindari dampak parah dari perubahan iklim. Beberapa pencapaian positif yang bisa dicatat adalah adanya kesepakatan global tentang pentingnya transisi energi bersih dan penurunan emisi karbon, serta banyak negara yang telah mengadopsi kebijakan iklim yang lebih ambisius.
Namun, kenyataannya, emisi global masih terus meningkat. Berdasarkan laporan dari Program Lingkungan PBB (UNEP), meskipun beberapa negara telah memperkenalkan kebijakan pengurangan emisi, emisi karbon global justru mengalami kenaikan yang stabil. Bahkan, beberapa negara besar penghasil emisi, seperti Amerika Serikat dan China, meskipun melakukan beberapa perubahan kebijakan, masih jauh dari jalur untuk mencapai target 1,5°C.
3. Komitmen dan Ambisi Negara-negara Besar: Akar Masalah
Salah satu tantangan terbesar adalah ketidakseimbangan dalam komitmen negara-negara besar. Meskipun banyak negara kecil dan berkembang sudah menunjukkan upaya signifikan untuk menurunkan emisi, negara-negara dengan ekonomi besar, seperti Amerika Serikat, China, India, dan Rusia, belum sepenuhnya memenuhi ambisi yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris. Bahkan dengan pemerintahan yang berubah, seperti pada periode kepresidenan Joe Biden di AS, kebijakan iklim yang lebih ambisius baru mulai diterapkan.
Sementara itu, negara-negara berkembang menghadapi dilema besar. Banyak dari mereka yang tidak memiliki kapasitas untuk melakukan transisi energi dengan cepat karena keterbatasan teknologi, dana, dan ketergantungan mereka pada sumber daya alam. Meskipun mereka menerima dukungan dari negara maju, dana iklim yang dijanjikan dalam Perjanjian Paris, yang diperkirakan mencapai $100 miliar per tahun untuk membantu negara berkembang, belum tercapai secara penuh.
4. Pentingnya Pembiayaan dan Teknologi untuk Negara Berkembang
Namun, meskipun ada janji-janji dari negara-negara maju, hingga 2026, dana yang dikumpulkan masih jauh dari target yang diharapkan.
Selain itu, transfer teknologi juga sangat penting. Tanpa teknologi yang efisien dan terjangkau, negara berkembang akan kesulitan untuk beralih ke energi terbarukan secara massal. Perjanjian Paris telah menetapkan tujuan untuk memfasilitasi transfer teknologi, namun kemajuan dalam hal ini masih sangat terbatas. Salah satu contohnya adalah penerapan teknologi penyimpanan energi (battery storage) yang dapat mendukung transisi ke energi terbarukan. Meskipun ada kemajuan, teknologi tersebut masih terbilang mahal dan sulit diakses oleh negara-negara dengan sumber daya terbatas.
5. Sejauh Mana Capaian Perjanjian Adopsi Energi Terbarukan: Perubahan yang Menjanjikan
Di sisi lain, ada sejumlah kemajuan yang menjanjikan, terutama dalam transisi ke energi terbarukan. Bahkan di negara-negara seperti China, yang sebelumnya sangat bergantung pada batu bara, sudah ada pergeseran besar-besaran menuju penggunaan energi hijau.
Namun, meskipun ada kemajuan yang menjanjikan dalam penggunaan energi terbarukan, ketergantungan pada bahan bakar fosil tetap menjadi hambatan besar. Negara-negara penghasil minyak dan gas, seperti Arab Saudi, Rusia, dan beberapa negara lainnya, masih cenderung mempertahankan industri energi fosil karena ketergantungan ekonomi mereka terhadap sumber daya ini.
6. Sejauh Mana Capaian Perjanjian Tantangan Adaptasi: Mengurangi Kerusakan yang Sudah Terjadi
Perjanjian Paris tidak hanya berfokus pada mitigasi perubahan iklim, tetapi juga pada adaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah terjadi. Beberapa negara telah mengimplementasikan langkah-langkah adaptasi untuk menghadapi dampak langsung dari bencana iklim, seperti banjir, kekeringan, dan suhu ekstrem. Namun, banyak negara masih kesulitan untuk memitigasi dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan secara nyata.
Misalnya, di negara-negara kepulauan Pasifik, yang menjadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut, kebutuhan untuk adaptasi sangat mendesak. Bantuan internasional untuk adaptasi ini belum cukup untuk menangani masalah yang dihadapi oleh banyak negara di wilayah ini.
7. Laporan Emisi Global: Menyongsong COP28
Beberapa analisis juga menunjukkan bahwa perubahan kebijakan setelah COP26 belum cukup untuk mempercepat transisi global menuju ekonomi rendah karbon. P






