Pimpinan Komisi X Usul Dapur MBG di Sekolah Dikhususkan untuk Daerah 3T
Jangkauan Celigon – Pimpinan Komisi X Usul Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat program bantuan kepada daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), pimpinan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengusulkan agar Dapur Mandiri Berbasis Gerakan (MBG) yang telah diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) difokuskan untuk daerah-daerah 3T.
Apa Itu Dapur MBG?
Program ini memungkinkan sekolah untuk memanfaatkan fasilitas dapur yang ada di sekolah untuk menyediakan makanan sehat bagi para siswa, dengan mengedepankan prinsip kemandirian dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Dapur MBG memiliki tujuan besar untuk mengurangi angka kekurangan gizi di kalangan anak-anak sekolah dan memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang baik untuk mendukung proses belajar mereka.
Pimpinan Komisi X: Fokus pada Daerah 3T
Menurut anggota Komisi X DPR, beberapa daerah 3T masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Tidak hanya terbatas pada keterbatasan guru dan sarana prasarana, namun juga soal gizi yang mendukung tumbuh kembang siswa. Seringkali, anak-anak di daerah-daerah 3T terpaksa menjalani hari-hari mereka tanpa cukup makan, yang tentunya memengaruhi konsentrasi dan semangat belajar mereka.
Kita ingin memastikan bahwa anak-anak di daerah-daerah yang paling membutuhkan mendapatkan makanan bergizi yang bisa mendukung aktivitas belajar mereka,” ujar Ketua Komisi X DPR, Wita Lestari, dalam sebuah pernyataan resmi.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD DKI Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Terapis Spa di Pejaten
Dampak Positif untuk Daerah 3T
Jika diimplementasikan dengan baik, program Dapur MBG ini bisa membawa dampak positif yang signifikan bagi perkembangan pendidikan di daerah-daerah 3T. Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa diharapkan:
1. Peningkatan Kualitas Gizi Anak-Anak di Daerah 3T
Program Dapur MBG dapat memastikan bahwa anak-anak yang bersekolah di daerah-daerah ini mendapatkan makanan sehat dan bergizi setiap hari, yang pada gilirannya dapat meningkatkan konsentrasi dan daya tahan mereka dalam menjalani proses belajar.
2. Meningkatkan Kemandirian Sekolah dan Masyarakat Lokal
Dapur MBG tidak hanya mengandalkan bantuan dari luar, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya. Ini dapat menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam pengelolaan pangan lokal yang sehat dan bergizi. Selain itu, sekolah juga bisa belajar untuk mandiri dalam mengelola anggaran dan sumber daya yang ada untuk menyediakan makanan bagi siswa.
3. Menurunkan Angka Stunting dan Malnutrisi di Daerah Tertinggal
Masalah stunting (gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi) masih menjadi isu besar di banyak daerah 3T.
4. Penguatan Kerjasama Antara Pemerintah dan Komunitas Lokal
Program Dapur MBG juga berpotensi untuk memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat setempat. Program ini juga membuka peluang bagi pelatihan bagi masyarakat setempat untuk mengelola dapur sekolah dengan lebih efektif dan efisien.
Tantangan dan Solusi Implementasi di Daerah 3T
1. Keterbatasan Infrastruktur dan Fasilitas Dapur di Sekolah
Di banyak daerah 3T, kondisi infrastruktur sekolah masih terbatas, termasuk fasilitas dapur yang memadai untuk menjalankan program ini. Untuk itu, perlu ada peningkatan fasilitas dapur dan pelatihan bagi pengelola sekolah untuk bisa mengelola dapur secara mandiri dan efektif.
2. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pangan Lokal
Di beberapa daerah 3T, ketersediaan bahan pangan lokal yang sehat dan bergizi mungkin terbatas. Ini bisa melibatkan kerjasama dengan petani lokal dan penyuluh pertanian untuk menyediakan bahan makanan yang berkualitas.
Keterbatasan Anggaran
Salah satu tantangan besar dalam menerapkan program ini di daerah 3T adalah keterbatasan anggaran yang tersedia.
Pimpinan Komisi X Usul Respons dari Pemerintah dan Masyarakat
Makarim menyatakan bahwa pihaknya siap untuk mendukung penerapan program Dapur MBG di daerah-daerah 3T.






