Gajah Dona Mati di TNWK: Peringatan Serius bagi Konservasi Gajah Sumatera
Jangkauan Celigon — Gajah Dona Mati Dunia konservasi kembali berduka. Seekor gajah Sumatera betina bernama Dona, berusia sekitar 45 tahun, meninggal di Camp Elephant Response Unit (ERU) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada 15 November 2025. Kejadian ini bukan sekadar kehilangan individu penting, tetapi juga memunculkan sejumlah pertanyaan tentang tantangan nyata dalam konservasi gajah Sumatera.
Kronologi dan Penyebab Kematian
Menurut Balai TNWK, Dona telah menunjukkan penurunan kesehatan sejak awal November 2025. Pada 6 November, pemeriksaan rutin menunjukkan kadar eosinofil darah tinggi, indikasi adanya infeksi parasit.
Kondisinya semakin memburuk hingga pada 13 November, Dona menolak makan.
Tim medis memberikan infus dan pemantauan intensif, tetapi tidak membuahkan perbaikan signifikan.
Pada 16 November, dilakukan nekropsi untuk menyelidiki penyebab kematian, dan tubuh Dona kemudian dikubur di wilayah TNWK.
Kepala Balai TNWK menyatakan kematian Dona sebagai “masalah kesehatan” yang telah dipantau, bukan akibat perburuan atau konflik manusia-hewan.
Baca Juga: 3 Fakta Rencana Prabowo Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza
Dampak Terhadap Upaya Konservasi
1. Kehilangan Individu Kunci dalam Populasi Terancam
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah spesies yang sangat rentan (critically endangered) dan memiliki daya reproduksi yang lambat. Kehilangan individu seperti Dona, terutama betina dewasa, dapat mengurangi potensi regenerasi populasi.
2. Ancaman Kesehatan yang Lebih Luas
Kematian Dona karena dugaan infeksi parasit menggarisbawahi risiko penyakit dalam populasi gajah liar dan semi-liar di TNWK. Selain itu, penyakit seperti virus herpes gajah (EEHV) sebelumnya telah menjadi momok dalam kematian gajah muda dan jinak di kawasan konservasi ini.
3. Gajah Dona Mati Tekanan terhadap Sumber Daya Konservasi
Perawatan gajah, pemantauan kesehatan, serta tindakan pencegahan penyakit membutuhkan sumber daya finansial, tenaga medis, dan dukungan infrastruktur konservasi. Setiap kematian merupakan pengingat bahwa program konservasi gajah memerlukan dukungan berkelanjutan dan pendanaan yang kuat.
4. Gajah Dona Mati Reputasi dan Kepercayaan Publik
Sebagai salah satu ikon konservasi di Indonesia, kematian Dona bisa memengaruhi persepsi publik dan pendukung konservasi. Jika kematian gajah terus terjadi, masyarakat dan donor mungkin mempertanyakan efektivitas manajemen konservasi di TNWK.
Komitmen Pemerintah dan Tantangan Masa Depan
Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan komitmennya untuk menjaga TNWK sebagai pusat konservasi gajah Sumatera.
Namun, kematian berulang gajah di TNWK — termasuk Dona dan kasus sebelumnya — menegaskan bahwa konservasi tidak hanya soal perlindungan wilayah, tetapi juga penguatan pemantauan kesehatan dan mitigasi risiko penyakit.
Nilai ekosistem TNWK sangat besar. Satuan kerja konservasi bersama lembaga terkait perlu terus mengevaluasi strategi dan memperbaiki manajemen kesehatan gajah sebagai bagian dari upaya jangka panjang.
Kesimpulan
Kematian Gajah Dona di TNWK bukan sekadar tragedi individual, melainkan sinyal penting bahwa konservasi gajah Sumatera menghadapi tantangan serius. Dari kesehatan hingga alokasi sumber daya, semua aspek konservasi perlu diperkuat untuk menjaga kelangsungan hidup gajah di alam liar. Ke depannya, sangat penting bagi para pemangku kepentingan — mulai dari pengelola taman nasional, pemerintah daerah, hingga masyarakat — untuk bekerja sama lebih erat agar kehilangan seperti Dona tidak lagi terulang.
