Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Di Tengah Masyarakat Multikultural, Ngatir Jadi Simbol Toleransi dan Kerukunan Warga Lebak

Di Tengah Masyarakat Multikultural, Ngatir Jadi Simbol Toleransi dan Kerukunan Warga Lebak

Shoppe Mall

Ngatir di Cipanas Lebak: Merajut Tali Silaturahmi Antar Kampung Lewat Bakul Nasi Berkah

Jangkauan Cilegon– Di tengah derasnya arus modernitas yang kerap mengikis nilai-nilai kebersamaan, sekelompok masyarakat di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, dengan teguh memeluk warisan leluhurnya. Sebuah tradisi unik dan penuh makna terus hidup dan dirawat: Tradisi Ngatir. Lebih dari sekadar bertukar makanan, Ngatir adalah sebuah festival syukur, sebuah simfoni kebersamaan, dan jembatan silaturahmi yang mengubungkan satu kampung dengan kampung lainnya, melampaui sekat status sosial dan ekonomi.

Pada suatu hari yang cerah di Kampung Lurah, Desa Sipayung, suasana berbeda terasa. Udara tidak hanya segar oleh hawa pegunungan Cipanas, tetapi juga hangat oleh semangat gotong royong. Para ibu sibuk menyiapkan sesuatu yang istimewa. Bakul-bakul anyaman bambu (biasa disebut bakul atau pengki) disusun rapi, diisi dengan aneka hidangan yang menggugah selera. Aroma nasi pulen, ayam panggang bumbu kuning, dan mie goreng menari-nari di udara, menjadi pertanda bahwa hari itu adalah hari pelaksanaan tradisi Ngatir.

Shoppe Mall

Makna dalam Setiap Bakul: Lebih dari Sekadar Makanan

Ngatir, secara harfiah, berarti membawa sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Dalam konteks tradisi ini, yang dibawa adalah hanceungan—sebuah bakul nasi yang berisi aneka lauk-pauk dan makanan. Seperti yang dijelaskan oleh Jamal, salah seorang warga, setiap satu bakul lengkap itu diperuntukkan bagi satu kelompok yang terdiri dari tujuh orang. “Yang wajib ada itu nasi dan ayam panggang. Sisanya bisa ditambah sesuai kemampuan,” ujarnya.

Di Tengah Masyarakat Multikultural, Ngatir Jadi Simbol Toleransi dan Kerukunan Warga Lebak
Di Tengah Masyarakat Multikultural, Ngatir Jadi Simbol Toleransi dan Kerukunan Warga Lebak

Baca Juga: Pengakuan Sopir Truk Tangki Pertamina yang Terlibat Kecelakaan Beruntun di Cigudeg Bogor

Pernyataan sederhana Jamal ini menyimpan filosofi yang dalam. Kewaajiban adanya nasi dan ayam panggang menandakan sebuah standar kebersamaan, bahwa setiap orang, terlepas dari kemampuannya, akan mendapatkan bagian yang sama dan layak. Sementara kelonggaran untuk menambah lauk lainnya merupakan bentuk empati dan pengakuan bahwa kondisi ekonomi setiap keluarga boleh berbeda, tetapi semangat untuk memberi tidak boleh berkurang. Ini adalah tradisi yang memandang semua orang setara di hadapan semangat berbagi.

Isi bakul itu sendiri adalah cerita. Nasi, simbol kemakmuran dan kehidupan. Ayam panggang, sebuah hidangan istimewa yang biasanya hanya disajikan pada momen-momen spesial, menandakan bahwa tamu yang akan datang adalah orang yang sangat dihormati. Ditambah dengan mie, telur, lauk pelengkap, dan makanan ringan, setiap bakul adalah wujud dari ketulusan dan usaha terbaik untuk membahagiakan sesama.

Silaturahmi yang Bergulir: Sebuah Ritual Timbal Balik Penuh Keakraban

Keunikan Ngatir tidak hanya terletak pada pemberiannya, tetapi pada proses timbal balik yang terjalin. Pada hari itu, warga dari Kampung Sukamaju dan Kampung Babakan Pedes akan berjalan beramai-ramai menuju Masjid Jami di Kampung Lurah. Kedatangan mereka bukan sebagai peminta, tetapi sebagai bagian dari sebuah siklus persaudaraan yang sudah mapan.

Beberapa waktu sebelumnya, warga Kampung Lurah telah melakukan hal yang sama: berjalan ke kampung tetangga untuk mengambil hanceungan yang disiapkan untuk mereka. Kedatangan warga Sukamaju dan Babakan Pedes kali ini adalah bentuk balasan dan penyempurnaan dari ritual silaturahmi itu. Tradisi ini dilakukan secara bergiliran dan bergantian setiap tahunnya, menciptakan sebuah jaringan memberi dan menerima yang terus berputar, memperkuat ikatan tanpa henti.

Pertemuan di masjid bukanlah transaksi bisnis yang kaku. Setibanya di Masjid Jami, suasana penuh keakraban langsung tercipta. Jabat tangan, pelukan, canda tawa, dan obrolan hangat mengisi setiap sudut ruangan. Bakul-bakul nasi kemudian dibagikan dengan sukacita. Momen ini menjadi ajang silaturahmi dalam arti yang sesungguhnya; menjalin dan merawat hubungan baik, bertanya kabar, dan berbagi cerita tentang kehidupan. Masjid, sebagai tempat pertemuan, semakin mengukuhkan nilai-nilai kesucian dan ketulusan dalam tradisi ini.

Akar Tradisi: Menghubungkan yang Sakral dan yang Sosial

Menurut Sahri, seorang tokoh masyarakat setempat, Tradisi Ngatir tidak dilaksanakan secara sembarangan. Waktunya memiliki makna spiritual yang kuat. Tradisi ini dilaksanakan dua kali dalam setahun bertepatan dengan dua momen penting dalam kalender Hijriyah: 12 Rabiul Awal (peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW) dan 15 Syaban (malam Nifsu Syaban atau Ruwah).

Pemilihan waktu ini menunjukkan bahwa Ngatir bukanlah tradisi adat yang terpisah dari agama, tetapi justru menyatu dan memperkaya makna perayaan keagamaan. Pada Maulid Nabi, tradisi Ngatir menjadi refleksi dari meneladani sifat Nabi Muhammad SAW yang penyayang dan pemersatu. Sementara pada malam Ruwah, yang dalam budaya Jawa dan Sunda erat kaitannya dengan menyambut bulan Ramadhan dengan bersih-bersih dan berbagi, Ngatir menjadi bentuk “bersih-bersih” hati dari dengki dan “berbagi” rezeki untuk bekal memasuki bulan suci.

“Ngatir ini bukan hanya soal makanan, tapi tentang menjaga warisan leluhur dan memperkuat kebersamaan,” tegas Sahri. Nilai-nilai inilah yang menjadi roh dari tradisi turun-temurun ini, menjadikannya relevan dari generasi ke generasi.

Pelajaran Berharga dari Cipanas untuk Dunia

Dalam skala yang lebih besar, Tradisi Ngatir di Cipanas Lebak adalah sebuah benteng terakhir yang kokoh melawan individualisme. Ia adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai gotong royong, kebersamaan (togetherness), dan kepedulian sosial masih hidup dan bernafas dengan kuat di tengah komunitas masyarakat Indonesia.

Tradisi ini mengajarkan pada kita bahwa:

  1. Silaturahmi adalah modal sosial terkuat. Dengan berjalan dan bertemu langsung, ikatan emosional tercipta lebih kuat daripada sekadar chat di media sosial.

  2. Berbagi itu melembutkan hati. Memberi tanpa memandang status membuat hati kaya dan mengikis kesenjangan.

  3. Warisan budaya adalah panduan hidup. Tradisi yang diwariskan nenek moyang seringkali berisi kearifan lokal yang sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah kekinian, seperti perpecahan dan kesenjangan.

Ngatir adalah sebuah mahakarya budaya yang sederhana namun sangat bermakna. Ia adalah reminder bagi kita semua bahwa terkadang, wadah pemersatu bangsa yang paling efektif bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana: sebuah bakul nasi yang dibagi dengan tulus, disertai senyum, dan dijalankan dengan kebersamaan. Di setiap bakul yang diantarkan, terkandung doa, harapan, dan cinta yang terus merajut tenun kebersamaan masyarakat Cipanas, Lebak. Semoga tradisi mulia ini tetap abadi, menjadi oase di tengah gurun modernitas.

Shoppe Mall