Presiden Tertua di Dunia Ingin Teruskan Jabatan, Diprediksi Menang Lagi
Jangkauan Celigon — Presiden Tertua di Dunia yang berusia 92 tahun, secara resmi mencalonkan diri untuk masa jabatan kedelapan dalam pemilihan presiden yang digelar pada 12 Oktober 2025. Biya telah memerintah sejak tahun 1982, menjadikannya salah satu penguasa terlama di dunia. Meski usianya sangat lanjut, banyak analis dan pengamat politik memperkirakan bahwa ia akan kembali menang, berkat kontrol atas partai, kelembagaan negara, serta oposisi yang terpecah.
Latar: Riwayat Panjang Kekuasaan
Paul Biya menjadi Presiden Kamerun sejak 6 November 1982 setelah pengunduran diri presiden pertama Kamerun, Ahmadou Ahidjo.
Ia telah memenangkan banyak kali pemilihan presiden, dan sejak 2008, term limit atau batas masa jabatan presiden telah dihapus, memungkinkan dia mencalonkan diri berulang kali.
Keinginan Terus Menjabat & Prediksi Kemenangan
Biya menyatakan bahwa keputusan untuk mencalonkan kembali muncul setelah “seruan banyak pihak” dari berbagai penjuru negara. Ia menyebut dirinya masih ingin melayani rakyat dan bahwa tantangan negara masih besar.
Meskipun banyak kritik tentang kesehatannya, ketiadaan calon oposisi yang kuat, dan kontrol yang sangat besar atas media dan institusi negara, diperkirakan membuat Biya tetap menjadi favorit dalam pemilu ini.
Baca Juga: Kota Medan Banjir Akibat Luapan Sungai Babura, Ratusan Warga Terdampak
Tantangan & Kritik
Walau diprediksi menang, Biya menghadapi sejumlah hambatan dan kritik:
Isu kesehatan dan usia
Kondisi kesehatannya menjadi perhatian publik, terutama setelah kepergiannya ke luar negeri untuk perawatan dan absensi di dalam negeri menjadi panjang.
Presiden Tertua di Dunia Implikasi Kemenangan Biya
Jika menang, masa jabatan kedelapan akan memperpanjang kekuasaannya menjadi sekitar 99 tahun sebelum akhir jabatan nanti.
Internasional akan terus mengawasi, terutama soal transparansi pemilu dan situasi HAM, sebagai barometer legitimasi pemerintahannya di mata dunia.
Kesimpulan
Meskipun usianya sudah lanjut dan menghadapi berbagai kritik, Paul Biya tetap mantap mencalonkan diri untuk masa jabatan baru. Prediksi memang condong ke arah kemenangannya karena banyak keunggulan struktural dan kekuasaan yang telah tersusun rapi.






