Mal di Tangsel Sepi, Lahan Kosong Berjejer: Cermin Perubahan Gaya Konsumsi atau Gejala Ekonomi yang Lesu?
Jangkauan Cilegon– Suasana yang tak biasa menyambut setiap pengunjung yang melangkahkan kaki ke salah satu pusat perbelanjaan di Pamulang, Tangerang Selatan, pada suatu Jumat di pertengahan September. Bukannya diramaikan oleh celoteh pengunjung dan semarak aktivitas berbelanja, mal itu justru disambut oleh kesenyapan. Lorong-lorongnya lengang, hanya sedikit orang yang lalu lalang. Namun, pemandangan yang paling mencolok dan memicu tanda tanya besar adalah deretan kios yang tertutup rapat. Roller shutter besi yang terkunci menjadi monumen kekosongan, dan di atasnya, terpampang jelas tulisan “Disewa” atau “Dijual”—sebuah iklan keputusasaan yang berjejer bak batu nisan bagi era kejayaan mal.

Baca Juga: Bagi Warga Kabupaten Serang, Simak Dua Lokasi SIM Keliling di Kota Serang Hari Ini
Fenomena ini bukan sekadar kesan sepintas. Pengelola konfirmasi bahwa tingkat okupansi mal tersebut jauh dari kata ideal. Banyak tenant, terutama yang merupakan pelaku usaha kecil dan menengah, memilih angkat kaki karena terus menerus merugi. “Sudah berbulan-bulan sepi seperti ini. Weekend sedikit ramai, tapi tidak cukup untuk menutup biaya operasional,” ujar salah satu petugas keamanan yang enggan disebutkan namanya.
Mengurai Benang Kusut Kepenatan Mal Pamulang
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mal yang dahulu mungkin menjadi tempat nongkrong favorit ini kini berubah menjadi ruang hampa? Analisis mengerucut pada beberapa faktor kunci yang saling berkait kelindan.
1. Perubahan Perilaku Konsumen Pasca-Pandemi
Pandemi COVID-19 telah mengubah segalanya, termasuk cara kita berbelanja dan menghabiskan waktu. Kebiasaan belanja online yang dipaksa terbentuk selama masa karantina kini telah menjadi gaya hidup permanen. Kenyamanan berbelanja dari genggaman tangan, dengan diskon yang seringkali lebih agresif, telah mengalihkan minat banyak orang dari mal konvensional. Untuk apa repot parkir dan berjalan jauh jika barang yang diinginkan bisa sampai di depan pintu rumah?
2. Ledakan Gerai Ritel Modern dan Tempat Wisata Kuliner Alternatif
Kawasan Tangsel, khususnya di sekitar Pamulang, tidak luput dari gelombang pembangunan gerai ritel modern seperti alfamart, indomaret, dan minimarket lainnya yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, bermunculannya tempat wisata kuliner kekinian yang lebih tersebar (seperti food court outdoor atau kluster kuliner) menawarkan pengalaman bersantap yang lebih variatif dan seringkali lebih terjangkau dibanding food court di dalam mal.
3. Daya Beli Masyarakat yang Tertekan
Ini adalah faktor fundamental yang tidak bisa diabaikan. Tekanan inflasi, kenaikan harga berbagai komoditas pokok, dan biaya hidup yang semakin mencekik membuat masyarakat harus lebih bijak dalam mengalokasikan uangnya. Belanja sekunder dan tersier di mal menjadi salah satu pos pengeluaran pertama yang dikurangi. Uang lebih dialihkan untuk memenuhi kebutuhan primer dan tabungan darurat.
4. Persaingan dengan Mal Lain yang Lebih Massive
Tangsel memiliki beberapa mal besar dan modern seperti AEON Mall BSD dan The Breeze BSD yang menawarkan konsep yang lebih segar, tenant yang lebih lengkap, dan pengalaman berbelanja yang lebih “experience-based”. Mal-mal besar ini seperti magnet raksasa yang menyedot pengunjung dari seluruh penjuru, termasuk dari wilayah Pamulang dan sekitarnya, sehingga mal yang lebih kecil dan tua semakin tersingkir.
5. Minimnya Inovasi dan Daya Tarik
Mal yang sepi ini dinilai kurang mampu beradaptasi dan berinovasi. Konsepnya yang masih konvensional—hanya mengandalkan tenant retail dan food court—tidak lagi cukup untuk menarik minat generasi muda yang ha akan pengalaman yang instagramable dan unik. Tidak adanya anchor tenant besar atau wahana hiburan yang menjadi magnet juga memperparah kondisi.
Dampak Berantai di Balik Kios yang Tertutup
Efek dari sepinya mal ini bukanlah cerita isolasi. Ada dampak berantai yang menyertainya:
-
PHK Tenaga Kerja: Setiap kios yang tutup berarti berkurangnya lapangan pekerjaan untuk kasir, pramuniaga, hingga staff kitchen.
-
Penurunan Pendapatan Pengelola: Sewa kios adalah nyawa bagi pengelola mal. Banyak kios kosong berarti pendapatan mereka merosot, yang pada gilirannya bisa berdampak pada perawatan dan maintenance fasilitas mal.
-
Ekosistem Usaha yang Terganggu: Ojek online, pedagang kaki lima di sekitar mal, dan usaha-usaha pendukung lainnya juga ikut merasakan imbas dari sepinya pusat perbelanjaan tersebut.
Lalu, Apa Solusinya? Adakah Harapan untuk Bangkit?
Situasi ini mungkin terlihat suram, tetapi bukan akhir dari segalanya. Mal perlu bertransformasi dari sekadar tempat belanja menjadi destinasi pengalaman (experience destination). Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:
-
Reposisi Tenant: Mengurangi ketergantungan pada retail fashion dan lebih fokus pada F&B yang kekinian, pusat kebugaran, klinik kesehatan, co-working space, atau edutainment untuk anak.
-
Event Berkala: Mengadakan event secara rutin, seperti bazaar produk lokal, festival kuliner, konser musik akustik, kelas workshop, atau pasar malam yang bisa menarik pengunjung dengan tujuan spesifik.
-
Kolaborasi dengan Influencer & Digital Marketing: Gencar melakukan promosi di platform digital seperti TikTok dan Instagram, berkolaborasi dengan content creator untuk menciptakan buzz dan menarik audiens muda.
-
Revitalisasi Fisik: Mendesain ulang beberapa area untuk menjadi lebih photogenic, menyediakan spot-spot nongkrong yang nyaman dengan WiFi gratis, atau mungkin menambah area bermain anak yang interaktif.
-
Penawaran yang Kompetitif: Bekerjasama dengan tenant yang masih bertahan untuk menawarkan promo dan diskon yang menarik, serta membuat program loyalitas untuk pengunjung setia.
Evolusi atau Punah?
Fenomena mal sepi dan kios tutup di Tangsel ini adalah microcosm dari apa yang terjadi di banyak pusat perbelanjaan serupa di berbagai kota di Indonesia. Ini adalah tanda zaman yang tidak bisa dipungkiri. Mal-mal era lama tidak bisa lagi bersandar pada model bisnis “bangun lalu disewa” yang pasif.
Mereka dituntut untuk berevolusi, mendengarkan perubahan selera konsumen, dan berani melakukan metamorfosis menjadi ruang komunitas yang hidup dan berdenyut. Soalnya bukan lagi tentang menjual produk, tetapi tentang menjual pengalaman, kenangan, dan nilai-nilai yang tidak bisa didapatkan dengan mudah di dunia online.
Nasib mal ini ke depan bergantung pada seberapa cepat dan tanggap pengelolanya beradaptasi. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi monumen bisu yang mengenang kejayaan masa lalu, sementara dunia terus berputar meninggalkannya.






